Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Aug 5, 2013 in Kesehatan | 0 comments

Terapi Anak Autis dengan Lumba-lumba (Dolphin’s Therapy)

Ikan lumba-lumba tak hanya dapat beratraksi dalam sebuah pertunjukan.  Namun ternyata lumba-lumba dapat membantu melakukan terapi. Seorang psikolog bernama Dr. David Nathanson, Ph. D, telah menemukan sebuah terapi untuk anak autis, pada tahun 1978. Terapi tersebut dinamakan Dolphin’s Therapy.

Terapi ini merupakan salah satu terapi lain yang memanfaatkan hewan untuk penyembuhan dan perawatan, seperti terapi sengat lebah dan terapi lintah.

Dr Nathanson menemukan sebuah metode yang menyimpulkan bahwa berenang bersama ikan lumba-lumba spesies  hidung botol, dapat membantu anak autis. Biasanya, anak autis cenderung sulit diatur, kurang konsentrasi dan sulit berkomunikasi. Terapi ini akan membantu mereka untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

Sekilas tentang pengertian autis dikutip dari wikipedia adalah sebagai berikut:

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang dialami sejak lahir ataupun saat masa balita. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain.Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari Kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme.

terapi autis dengan lumba lumba - dolphin's therapy

Image courtesy by Longshaw | freedigitalphotos.net

Ikan lumba-lumba dapat mengeluarkan suara melengking, atau lebih dikenal dengan sebutan sonar wave, sebuah gelombang suara yang memiliki frekuensi tertentu. Sonar wave inilah yang membantu merangsang otak manusia untuk memproduksi energy yang ada dalam tubuhnya, dan akan menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Identifikasi gangguan saraf pada manusia juga dapat terdeteksi. Getaran ini akan dapat menenangkan sehingga saraf akan terdorong untuk lebih mudah menerima pelajaran dan penyembuhan.

Dalam kajian tersebut, dapat diartikan bahwa ternyata lumba-lumba mengandung potensi yang dapat menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik penderita down syndrome dan autisme.

Meski awalnya para dokter memang hanya mencoba-coba menjadikan lumba-luma sebagai teman untuk terapi pasien anak-anak autis. Namun ternyata, hal itu membuat anak-anak terhibur dan merasa senang bermain bersama lumba-lumba. Dengan memanfaatkan sonar wave serta ketertarikan anak-anak terhadap temang mainnya si “lumba-lumba”, maka terapi bersama ikan cerdas ini pun dapat dilakukan. Semakin lama, anak-semakin tertarik untuk lebih focus untuk mendengarkan suara khas ikan lumba-lumba di dekatnya.

Cara Terapi Autis Lumba-lumba yang Diterapkan adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama hingga ketiga, terapis akan memberi kesempatan kepada pasien untuk mengenal lebih dekat kepada lumba-lumba. Pasien akan memegang-megang tubuh lumba-lumba dari pinggir kolam terlebih dahulu selama sekitar 20 menit, tanpa masuk ke dalam kolam renang.
  2. Mulai hari ketiga hingga kesepuluh, pasien akan mulai diajak masuk ke dalam kolam renang bersama dengan terapisnya. Di tahap awal ini, pasien diharapkan mulai berani untuk menyentuh lumba-lumba, tanpa terus berpegangan tangan kepada terapisnya. Setelah itu, pasien akan didorong untuk bermain, dan mulai berkomunikasi sendiri dengan ikan dolphin di dekatnya. Lama kelamaan, terapis akan mulai menjauh, hingga nantinya terapis mengawasi dan memperhatikan dari jarak yang lebih jauh. Terapis akan terus memantau perkembangan pasien. Tahap ini akan berlangsung selama kurang lebih 40 menit.
  3. Sepupuh hari pertama, terapi terus berlangsung. Evaluasi akan dilakukan setelahnya. Hasil evaluasi akan dapat dirancang kebutuhan Dolphin’s Therapy pada pasien untuk berikutnya
  4. Setelah 10 tahap terapi lumba-lumba dilakukan, biasanya akan terjadi perkembangan pada pasien, mereka bisa lebih focus, dapat diatur, dan semangat belajarnya dapat terpacu.

Seputar pengetahuan tentang autisme dapat anda baca lebih detail di http://www.anneahira.com/pengertian-autis.htm.

Referensi sumber: Majalah Gadis Maret 2009

Dapatkan Artikel-artikel Menarik Infodari.com ke Inbox-mu!

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six + = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>