Batasan Curhat Masalah Rumah Tangga

Dalam rumah tangga sering terjadi perselisihan atau ketidak sepahaman antara pasangan. Hal ini sering membuat seorang istri atau suami ingin curhat masalah rumah tangga pada teman terdekat, sahabat atau saudara. Padahal sebenarnya, urusan intern rumah tangga sebaiknya tidak terdengar oleh pihak di luar lingkup rumah tangga. Mari kita pahami batasan-batasan untuk curhat masalah rumah tangga. Karena bagaimanapun, masalah rumah tangga adalah merupakan privasi yang harus tetap dijaga, maka anda harus mengetahui apa batasan-batasan curhat masalah rumah tangga kepada teman terdekat anda.

RAISA dan Utari bersahabat sejak masih berstatus mahasiswi. Saat keduanya bekerja dan masing-masing menjalani kehidupan rumah tangga, persahabatan mereka tetap solid.

Tak ada rahasia di antara mereka. Apapun uneg-uneg yang dialami salah satu pihak, tentu pihak lainnya akan ‘menampung’ dengan senang hati. Belakangan ini, Doni (suami Utari) mulai terganggu dengan persahabatan istrinya tersebut. Doni merasa tak nyaman jika ‘urusan dapur’ rumahnya diketahui Raisa.

Kebutuhan sosial dasar

Memiliki sahabat untuk mencurahkan isi hati (curhat) tak ada salahnya. Toh sebagai makhluk sosial, manusia memang membutuhkan orang lain. Hal ini diamini oleh Milka Melvina, M.Psi, “Semua orang memiliki kebutuhan sosial dasar, termasuk kebutuhan kasih sayang, teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial dan keakraban. Dengan memiliki sahabat atau teman berbagi, akan membantu terwujudnya kesejahteraan emosi,” paparnya.

Persahabatan menyediakan harapan, dukungan, dorongan dan umpan balik yang dibutuhkan seseorang. Umumnya, setelah uneg-uneg atau isi hati keluar, seseorang akan merasa lega. Ide-ide atau alternatif mencari jalan keluar pun terpikirkan.

Bila bercerita ‘masalah dapur’

“Berbagi dengan sahabat, wajar. Tapi jika sudah menikah harus ada batasan-batasannya,” ujar Milka.

Menjadi tidak wajar jika seseorang menjadi sangat bergantung kepada orang lain. Misal, tidak berfokus pada usaha bersama pasangan ketika menghadapi masalah rumah tangga, bercerita padahal belum berusaha menyelesaikan dengan pasangan secara maksimal. Atau masalah sepele langsung diceritakan. Semua itu tidak sehat bagi kedua belah pihak.

Jika sudah berkomitmen dengan pasangan untuk menyelesaikan setiap masalah bersama, penuhilah komitmen itu. Masalah akan membuat rumah tangga semakin solid jika berhasil dilalui bersama. Pandai-pandailah menyaring apa yang akan diceritakan. Pikirkan perasaan pasangan bila mengetahui Anda bercerita pada orang lain.

Plus-minus curhat

1. Dampak Positif: jika memilih orang yang tepat, tentu dapat membantu memberi alternatif jalan keluar yang positif bagi kedua belah pihak.

2. Dampak Negatif: bila teman curhat ‘tidak tepat’, masalah dapat semakin runyam bahkan dapat merugikan semua pihak. Misal orang tersebut tidak bisa netral dan melihat masalah hanya dari satu sisi saja.

Tetapkan batasan

Biasanya yang menjadi topik curhat adalah konflik atau kekurangan pasangan yang dianggap sangat mengganggu. Jadi, bijaksanalah! Curhat untuk menambah informasi atau tip agar terjalin komunikasi yang lebih baik dengan pasangan, boleh saja. Tapi, jangan curhat hanya untuk menceritakan ‘kejelekan’ pasangan.

Jika masalah sudah teramat pelik – sudah diusahakan berdua tapi tetap sulit – pihak ketiga yang mungkin tepat dijadikan sebagai alternatif adalah konselor perkawinan, penasihat agama. (Sumber: Tabloid Mom&Kiddie)

Pahamilah masalah rumah tangga dan selesaikan dengan baik bersama pasangan anda. Batasan Curhat Masalah Rumah Tangga ada baiknya anda perhatikan, agar privasi rumah tangga anda tetap terjaga. Ada baiknya curhat maslah rumah tangga kepada orang terdekat anda, namun pahami dengan baik apa saja batasan-batasan yang harus dijaga untuk curhat masalah rumah tangga anda.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Human Captcha Verification : * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

%d bloggers like this: