fikathiana April 12, 2017 @ 12:41PM

Fenomena batu berjalan californiaBaru-baru ini terdengar berita dunia unik dan aneh tentang fenomena “Batu Berjalan”. Misteri batu berjalan ini terjadi di Death Valley National Park, California, Amerika Serikat. Batu berjalan ini seolah-olah meninggalkan jejak dibelakangnya, seperti ekor panjang yang menempel pada dirinya. Lalu bagaimana kisah fenomena Batu berjalan ini sebenarnya?

Bagaimana bisa sebuah batu bisa berjalan hingga meninggalkan jejak?

Pertanyaan fenomena batu berjalan ini adalah pertanyaan yang paling pertama terbesit pada saat mendengar tentang batu berjalan. Jika hanya tertiup angin, bagaimana bisa batu sebesar itu bergeser dengan mudahnya hingga jejak yang ditinggalkannya sangat panjang. Bayangkan saja, berat batu tersebut mencapai ratusan kilogram.

Sampai saat ini, belum ada satupun orang yang melihat secara langsung pergerakan batu tersebut. Banyak pendapat yang mengatakan tentang bagaimana perpindahan batu tersebut. Batu berjalan di Racetrack Playa tersebut menimbulkan asumsi tentang pergerakannya yang berbeda-beda.

Racetrack Playa adalah danau kering yang datar dengan panjang empat kilometer dan lebar sekitar dua kilometer. Terletak di California-AS, permukaannya terdiri dari batuan sedimen yang terbuat dari lumpur dan tanah liat.

Iklim di daerah ini juga kering. Hujan hanya terjadi beberapa inci per tahun. Namun, saat hujan, pegunungan terjal yang mengelilingi Racetrack Playa akan menyuplai air ke permukaan danau dan menyulapnya menjadi danau dangkal yang sangat luas. Sayangnya, ini hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah itu, dalam keadaan basah, permukaannya berubah menjadi lumpur yang lembut dan licin.


Ada beberapa pendapat tentang batu berjalan tersebut karena:
– Digerakkan secara manual oleh manusia ataupun hewan.
– Digerakkan oleh angin yang bertiup kencang.
– Digerakkan oleh lapisan es yang terbentuk.

Terdapat tiga orang peneliti, yaitu Richard Norris dan Jim Norris dari California dan Ralph Lorenz. Mereka adalah  ilmuwan planet di Laboratorium Fisika Terapan, Universitas John Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat. Untuk menjawab misteri, mereka sebenarnya hanya memanfaatkan peralatan ringan untuk mendapatkan data-datanya, yaitu dengan pelacakan GPS, rekaman video, foto time-lapse. Dalam penelitan tersebut, didapatkan data bahwa dalam 16 menit, batu dapat bergerak lebih dari 60 meter.

Kesimpulan penting yang dapat diambil dari hasil survey tersebut adalah bahwa kombinasi air dan es membantu proses batu berjalan terjadi. Lapisan es yang menumpuk dan menebal di musim dingin, yang kemudian retak memicu batu bergerak dan menciptakan jejak berlumpur.
Dalam 16 menit, batu bergerak lebih dari 60 meter



%d bloggers like this: